Senin, 03 Agustus 2015
ANAK SOLEH & SOLEHAH ADALAH INVESTASI AKHIRAT.
ANAK SOLEH & SOLEHAH ADALAH INVESTASI AKHIRAT.
Kalau mau pilih, ingin punya rumah besar atau ingin punya anak yang sholeh dan sholehah?
Punya rumah besar, tidak salah kok milih rumah yang besar. Kita sebagai umat muslim juga butuh tempat tinggal yang nyaman dan luas.
Punya anak yang sholeh dan sholehah, in syaa Allah ini jawaban yang tepat.
Kenapa harus mempunyai anak yang sholeh dan sholehah?
Hidup ini teramat singkat jika kita hanya memikirkan dunia, pikirkanlah akhirat dimana kita akan hidup selamanya disana.
Anak sholeh dan sholehah in syaa Allah adalah investasi akhirat kita.
Selama kita mempunyai anak yang sholeh dan sholehah, in syaa Allah di dalam akhirat, kita akan hidup bahagia.
Bagaimana tidak, anak yang sholeh dan sholehah in syaa Allah selalu mendo'akan orang tuanya.
"Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya" (Hadis Riwayat Muslim).
Yuk persiapkan diri dari sekarang. Persiapkan diri untuk menjadi orang tua yang bisa mengajarkan anak agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Aamiin.
Semoga bermanfaat.
via @Generasi_Kaffah
LINE : @ Islam [ User ID : @kbi6840i ]
islam-surga.blogspot.com
http://islam-surga.blogspot.com/2015/08/anak-soleh-solehah-adalah-investasi.html
Minggu, 02 Agustus 2015
Anak Gadis Masa Kekinian
Tawa renyah, pipi bersemu merah, senyum tersipu malu-malu.. Masihkah?
Masih seperti inikah gambaran gadis-gadis masa kini?
Anak-anak polos yang kini berubah menjadi liar, tidak peduli, tidak takut, dan tidak malu ketika bercampur baur dengan laki-laki bukan mahram.
Anak Gadis Masa Kekinian
Orang tua yang bangga anak gadisnya memiliki pergaulan luas, tidak peduli dengan laki-laki ataupun perempuan, punya pacar dianggap suatu prestasi.
Ketika anak gadis mereka dijemput dan diantar lawan jenis yang bukan mahramnya, mereka malah berpesan, “Tolong jagakan anak saya ya.” Tidakkah mereka sadar anak mereka dititipkan kepada “macan”, yang siap menerkam kapan saja. Apalagi jelas setan tidak akan tinggal diam melihat hal ini.
Jangan sampai kalian menyesal ketika telah muncul “penanda dosa” berupa cucu yang belum kalian rencanakan, bahkan kematian anak perempuan kalian karena komplikasi melahirkan yang tidak aman atau karena akibat lain yang sama celanya.
مَنْ بُـلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ شَيْئًا فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa yang diberi cobaan dengan anak perempuan kemudian ia berbuat baik pada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 2629).
Jagalah anak-anak gadismu wahai para ayah dan para ibu, tumbuhkanlah iman dan rasa malu di hati mereka. Mereka bisa menjadi jalan menuju surga bila kita mampu mendidik dengan benar, sebaliknya bisa juga menarik kita ke dalam api neraka bila kita menunjukkan jalan yang salah.
Penyusun: Siti Hardiyanti Adam
Pemuraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits
Artikel Muslimah.or.id
via blog.berdakwah.net
LINE : @ Islam [ User ID : @kbi6840i ]
islam-surga.blogspot.com
http://islam-surga.blogspot.com/2015/08/anak-gadis-masa-kekinian.html
Dicari ! Suami ideal..
Dicari ! Suami ideal..
Banyak suami yang merasa telah berperan besar dengan mencari nafkah, lalu merasa mendapat pembenaran untuk tidak mau tahu dengan urusan rumah. Mengurus anak, pekerjaan rumah tangga, hingga hal-hal yang lebih kecil dari itu, seperti “wajib” dibebankan pada istri semata.
Itulah salah satu “egoisme” suami yang banyak kita jumpai dalam kehidupan rumah tangga saat ini. Terlihat sepele, namun sejatinya cukup menggerogoti harmonisasi dalam keluarga. Apalagi bara egoisme itu terus disulut dengan sikap suami yang lebih senang menuruti kesenangan pribadi: menonton sepak bola, memancing, main game, internetan, nongkrong bersama teman-temannya, atau malah terlampau asyik dengan pekerjaan kantornya. Alih-alih bicara kepedulian, waktu pun seperti tiada untuk keluarga.
Suami Ideal
Patut disadari, suami dengan segala karakternya, jelas dominan memberi warna dalam rumah tangganya, karena ia adalah kepala rumah tangga. Pada dirinya kepemimpinan itu berada, pada dirinya keteladanan harus ditampakkan, dan di pundaknya tugas mencari nafkah itu dibebankan. Dengan sederet tanggung jawab yang besar itu, rumah tangga jelas membutuhkan karakter suami yang bisa memimpin, membimbing, tegas, cepat dan tepat dalam mengambil keputusan, bisa memberi teladan, tidak pantang menyerah, ulet dalam bekerja dan mencari nafkah, dan sebagainya. Sudahkah ini semua dimiliki seorang suami?
Pada kenyataannya, kita justru menjumpai yang sebaliknya. Banyak suami yang tidak punya visi dalam berumah tangga, hingga terkesan nekat ketika memasuki gerbang pernikahan. Usaha/pekerjaan apa yang akan ditekuni, akan tinggal di mana setelah berumah tangga, seperti jauh dari rencana. Ada suami yang masih tinggal jadi satu dengan orang tua dalam keadaan belum punya pekerjaan, justru merasa nyaman-nyaman saja padahal segala kebutuhan rumah tangganya masih di-support orang tuanya. Galibnya, sebagai kepala rumah tangga, ia dituntut untuk menafkahi keluarganya, tidak berlindung di balik kata tawakal untuk menutupi kemalasan dan keputusasaannya.
Parahnya, dalam keadaan yang serba kekurangan ini banyak suami yang justru emosional. Menuruti emosi, ancaman cerai sedikit-sedikit ditebar. Seolah-olah cerai itu adalah perkara remeh yang tidak punya konsekuensi apa pun. Seakan-akan dengan ancaman cerai dia telah menjadi laki-laki sejati, superior, dan membuat wanita tak berdaya. Bahkan, ada yang menjadi ringan tangan demi menutupi “kegagalannya”.
Ada pula yang sebaliknya. Suami dikaruniai rezeki yang luas, namun dia justru pelit memberi nafkah kepada keluarganya. Bahkan, dia menyalahgunakan kepercayaan istri untuk bermaksiat di luar rumah, berfoya-foya hingga selingkuh. Ada juga tipe suami yang tertutup, tidak mau terbuka kepada istrinya, dari soal pekerjaan atau penghasilannya, lebih-lebih uangnya ke mana saja dibelanjakan.
Padahal istri butuh tipe suami yang terbuka, mau mendengarkan dan mengajaknya bermusyawarah, perhatian, tidak otoriter, dan tidak selalu merasa benar sendiri. Akan tetapi, alih-alih penuh pengertian, sabar, dan pemaaf, banyak suami yang justru tidak mau menganggap, bahkan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali.
Itu baru soal karakter. Pertengkaran rumah tangga yang bisa berujung perceraian juga tidak jarang dipicu dari kebiasaan sepele. Seperti suami yang jorok, kurang memerhatikan penampilan, kerapian rambut atau pakaian, dsb.
Sederet sifat atau kebiasaan jelek suami bisa jadi akan panjang dibeberkan di sini. Intinya, sebisa mungkin kita menghindari hal-hal yang bisa menyuntikkan kebencian dalam rumah tangga. Menjadi ideal tidak berarti menjadi pribadi yang sempurna, tetapi ini tetap bisa diupayakan selama kita mau berusaha, insya Allah.
Asysyariah.com
via http://al-uyeah.blogspot.com/2015/06/dicari-suami-ideal.html
LINE : @ Islam [ User ID : @kbi6840i ]
islam-surga.blogspot.com
http://islam-surga.blogspot.com/2015/08/dicari-suami-ideal.html
Sabtu, 01 Agustus 2015
Cara Menenangkan Hati..
Menenangkan hati diperlukan ketika hati sedang gelisah. Ketika masalah terjadi yang mengakibatkan kegelisahan, menenangkan hati menurut Islam menjadi pilihan. Hidup tidak mungkin tanpa masalah karena sudah menjadi fitrah manusia. Lalu bagaimana cara menenangkan hati dalam Islam?
Cara menenangkan hati dalam Islam diantaranya adalah dengan berdzikir mengingat Allah. Dengan berdzikir, kita akan merasa bahwa masalah yang terjadi adalah atas kehendak-Nya. Allah sedang menguji kita dengan masalah tersebut.
Selain berdzikir mengingat Allah SWT, ada beberapa cara menenangkan hati dalam Islam yang bisa menjadi penawar kegelisahan yang terjadi. Yakinlah bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya kecuali dalam batas kemampuannya.
SABAR
Dengan kesabaran, manusia akan lebih bisa menghadapi masalah yang berat sekalipun. Ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi cobaan selalu dihadapi dengan kesabaran. Menenangkan hati dengan sabar sesuai dengan firman Allah yang artinya “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).
Cara Menenangkan Hati dalam Islam
BERPIKIRAN POSITIF
Selalu berpikiran positif atau positive thinking sangat membantu untuk menenangkan hati yang sedang gelisah. Jangan sampai kita memiliki pikiran yang negatif tentang masalah yang sedang terjadi, apalagi sampai menyalahkan atau menuduh bahwa Allah tidak bertindak adil terhadap diri kita. Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.
Untuk menenangkan hati, Allah telah berjanji bahwa ada kemudahan dalam setiap kesulitan sebagaimana firman Allah yang artinya “Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6).
BERDZIKIR (MENGINGAT ALLAH)
Cara menenangkan hati dalam Islam sebagaimana yang telah dijelaskan di atas adalah dengan mengingat Allah, kita dapat menghadapi persoalan dengan lebih tenang. Allah telah berjanji, bagi siapa saja yang mengingat-Nya, maka di dalam hatinya akan terisi dengan ketentraman.
Satu hal yang harus diingat, untuk dapat menenangkan hati, dzikir tidak hanya dilakukan sebatas ucapan lisan dan atau hati saja. Dzikir kepada Allah merupakan rangkaian kegiatan yang melibatkan hati, lisan, dan perbuatan yang tidak dapat dipisahkan.
Sebagaimana firman Allah yang artinya “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).
SHOLAT
Sholat merupakan ibadah yang bisa menenangkan hati, penangkal dan penawar berbagai penyakit hati yang bersarang di dalam dada manusia. Sholat merupakan aktivitas komunikasi langsung dengan Allah yang menggenggam dan menguasai segala hati, yang menciptakan penyakit dan yang menyembuhkannya tanpa rasa sakit.
Jadi, untuk cara menenangkan hati dalam Islam adalah dengan bersabar, berpikir positif, berdzikir mengingat Allah, dan sholat. Karena semua itu adalah solusi segala persoalan, termasuk masalah penyakit hati seperti rasa gelisah, resah, gundah, gulana, galau dan lain sebagainya.
Demikianlah cara menenangkan hati dalam Islam ini, semoga dapat berguna dan bermanfaat untuk kita semua. Amin ya robbal ‘alamin.
via : http://lifestyle.blog-guns.com/
LINE : @ Islam [ User ID : @kbi6840i ]
islam-surga.blogspot.com
http://islam-surga.blogspot.com/2015/08/cara-menenangkan-hati.html
Pengetahuan Islam # 1 | Islam @ LINE | Islam @ LINE Account
Dakwah, menyampaikan pesan Islam kepada non-Muslim, adalah kewajiban umat Islam. Allah SWT memerintahkan dan menuntun kita dalam Al Qur'an untuk melakukan dakwah (dengan aturan-aturan tertentu):
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. 16:125)
Empat kata kunci yang harus digarisbawahi dalam ayat ini adalah "serulah", "manusia", "pelajaran yang baik", dan "cara yang baik". Banyak pendakwah dan organisasi Islam di seluruh dunia menjalankan kegiatan-kegiatan dakwah mereka berdasarkan ayat ini.
Bagi mereka, mengundang seseorang untuk masuk Islam berarti dengan lembut mengajak, peduli, santun, dan sebagainya. Sebagai contoh, kita tidak bisa “mengundang” seorang non-Muslim untuk memahami tentang Islam, atau belajar Islam, atau membuat dia tertarik kepada Islam, dengan memanggilnya kafir, manusia najis, atau nama-nama buruk lainnya. Rasulullah s.a.w bahkan tidak membolehkan para penyembah berhala (yang bukan saja menentang ajaran Rasulullah, tapi juga melemparinya dengan kotoran unta, mengasingkan umat Muslim selama tiga tahun dan membunuh sahabat-sahabat terdekatnya, dan sebagainya) dicela dalam sebuah puisi bernada sarkasme oleh Hassan bin Tsabit yang mengatakan “Bagaimana kalau sebenarnya aku bersaudara dengan mereka?” (H.R. Bukhari, dari Aisyah)
Kita harus mengikuti sunnah Rasulullah s.a.w dengan tidak menghina orang lain. Dengan begitu, kita harus memiliki akhlaq yang baik, seperti yang diajarkan oleh Islam, dan dengan demikian menjadi penyeru-penyeru Islam yang terbaik, dan begitulah seharusnya sifat para da’i sejati. Seorang Muslim yang membuat nama Islam menjadi buruk dengan berperilaku ekstrim, keras, emosinya tinggi, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, berpikiran sempit, dogmatis, dan hal-hal lain yang tidak diajarkan dalam Islam, hanya akan membuat pekerjaan para da’i menjadi lebih sulit. Orang-orang seperti itu hanya membuat nama Islam semakin buruk di zaman sekarang, dimana banyak orang yang berpandangan negatif terhadap Islam.
Kita juga harus mengingat perintah dari Allah kepada Nabi Musa a.s dan Harun a.s:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (Qur'an 20:43 -44)
Bahkan kepada Fir’aun, yang telah membunuh banyak orang tak bersalah dengan merebusnya dalam ketel minyak yang mendidih, yang telah mengaku dirinya sebagai tuhan, kita harus berbicara dengan lemah-lembut, apalagi kepada orang-orang yang lebih baik daripadanya.
Kata penting berikutnya adalah “manusia.” Ini berarti SEMUA MANUSIA, tanpa terkecuali. Setiap non-Muslim adalah calon muallaf yang bisa mendapatkan hidayah meskipun mereka sangat anti-Islam atau berperangai buruk. Ingatlah bahwa Umar bin Khattab r.a dan Khalid bin Walid r.a, sebelum mereka berdua masuk Islam adalah orang yang sangat anti-Islam. Seorang Muslim tidak boleh terlalu memilih-milih kepada siapa dia berinteraksi. Setidaknya ada tiga alasan untuk hal ini:
1. Lebih baik bagi kita untuk menjelaskan Islam kepada siapapun, meskipun sikap mereka memusuhi, sinis, dan kritis, daripada membiarkan mereka belajar sendiri dan ternyata belajar dari sumber yang salah, atau lebih buruk lagi, belajar dari website-website anti-Islam, dsb. Dengan berdakwah, setidaknya kita bisa mengenalkan ajaran Islam yang sebenarnya kepada mereka. ‘Menurut anda ini hanya buang-buang waktu? Bacalah alasan nomor 2.
2. Tujuan berdakwah bukanlah untuk menjadikan non-Muslim masuk Islam, melainkan untuk menyampaikan pesan Islam kepada mereka dengan cara terbaik yang kita bisa, dan hal itu berarti “dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” Penerimaan atau penolakan mereka terhadap Islam terserah kepada mereka. Kesuksesan dari dakwah tidak berada di tangan kita. Hanya Allah yang punya kekuatan memberikan hidayah (petunjuk) kepada siapapun yang dikehendaki-Nya, bahkan Nabi Muhammad s.a.w pun tidak punya kekuatan untuk hal itu. Ingatlah bahkan Nabi Muhammad s.a.w tidak bisa mengislamkan Abu Thalib, pamannya sendiri,.
3. Seorang Muslim yang pernah mencoba untuk mendapatkan perhatian dari non-Muslim tentu pernah mengalami kesulitan dalam berdakwah. Tentu saja berdakwah kepada non-Muslim tidak semudah berdakwah kepada Muslim yang taat, misalnya mereka yang sering pergi ke masjid, menghadiri ceramah Islam, seminar, program dakwah, dsb, dan mereka yang sudah tertarik kepada Islam.
@lampuislam
LINE : @ Islam [ User ID : @kbi6840i ]
islam-surga.blogspot.com
http://islam-surga.blogspot.com/2015/08/pengetahuan-islam-1-islam-line-islam_1.html
Apakah Pemakai Akik Wudhunya Tidak Sah?
Apakah Pemakai Akik Wudhunya Tidak Sah?
Kaidah yang berlaku dalam aturan wudhu, bahwa jika ada bagian anggota wudhu yang tertupi benda tertentu, sehingga menghalangi air untuk mengenai kulit, maka wudhunya batal dan wajib diulang.
Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ» فَرَجَعَ، ثُمَّ صَلَّى
Ada seseorang yang berwudhu lalu dia membiarkan seluah satu kuku di jari kakinya tidak terkena air. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikannya dan menyuruhnya,
”Kembali, ulangi wudhumu dengan baik.”
Orang inipun mengulangi wudhunya, lalu dia shalat. (HR. Muslim 243).
Dalam riwayat Ahmad, dicertitakan,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يُصَلِّي، وَفِي ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ، قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ ” فَأَمَرَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ “
Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang shalat, sementara di punggung kakinya ada selebar koin yang belum tersentuh air. Kemudian beliau menyuruh orang ini untuk mengulangi wudhunya. (HR. Ahmad 15495 dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth).
Apakah Pemakai Akik Wudhunya Tidak Sah?
Berdasarkan hadis di atas, para ulama menegaskan bahwa wudhu tidak sah, jika masih ada bagian anggota wudhu yang tidak terkena air. Meskipun itu hanya seluas koin atau kuku di jari kaki. Ketika wudhu batal, maka shalat yang dikerjakan juga batal.
Ketika menjelaskan hadis Umar di atas, an-Nawawi mengatakan,
فِي هَذَا الْحَدِيث : أَنَّ مَنْ تَرَكَ جُزْءًا يَسِيرًا مِمَّا يَجِب تَطْهِيره لَا تَصِحّ طَهَارَته وَهَذَا مُتَّفَق عَلَيْهِ
Dalam hadis ini terdapat kesimpulan bahwa orang yang meninggalkan sebagian anggota yang wajib dibasuh maka wudhunya tidak sah. Ini perkara yang disepakati. (Syarh Muslim karya an-Nawawi, 3/132).
Cincin Akik Menghalangi Wudhu
Semakna dengan keringnya anggota wudhu adalah adanya bagian anggota wudhu yang tertutupi benda tertentu, sehingga air tidak bisa mengenai permukaan kulit anggota wudhu itu.
An-Nawawi mengatakan,
إذا كان على بعض أعضائه شمع أو عجين أو حناء وأشباه ذلك فمنع وصول الماء إلى شيء من العضو لم تصح طهارته سواء أكثر ذلك أم قل
Apabila sebagian anggota wudhu tertutup cat atau lem, atau kutek atau semacamnya, sehingga bisa menghalangi air sampai ke permukaan kulit anggota wudhu, maka wudhunya batal, baik sedikit maupun banyak. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 1/467).
Sebagaimana lem, cat, kutek dan yang lainnya, cincin akik yang menutupi bagian jari tangan sehingga tidak terkena air, bisa membatalkan wudhu. Ini bisa kita saksikan, ketika ada cincin akik yang besar, dipakai agak ketat sehingga menutupi permukaan kulit yang tertutupi akik.
Jika terjadi semacam ini, pemakai akik ketika wudhu, diharuskan memutar akiknya, memastikan seluruh permukaan jari tangannya terkena air. Dengan demikian, wudhunya sah.
Demikian, Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
via : blog.berdakwah.net
LINE : @ Islam [ User ID : @kbi6840i ]
islam-surga.blogspot.com
http://islam-surga.blogspot.com/2015/08/apakah-pemakai-akik-wudhunya-tidak-sah.html
Ketika Dilema & Galau Menanti Jodoh...
Indahnya ketika akad telah dikumandangkan, berjuta doa membanjiri pasangan pasutri baru yang sedang dilanda asmara. Keharmonisan rumah tangga telah terbayang indah nan penuh warna. Euforia walimatul ‘urs semakin menambah suasana berbunga-bunga.
Menikah merupakan dambaan setiap insan manusia. Menikah juga tak hanya sarana menyalurkan cinta dan nafsu belaka tanpa menuai pahala dari Allah Ta’ala. Menjadi keluarga yang bahagia, penuh dengan rasa cinta dalam rumah tangga merupakan impian dan idaman. Sungguh indah bersanding dengan seorang yang didambakan. Maka tak heran jika ada yang memasang berlembar-lembar kriteria diajukan demi mendapatkan pasangan yang diimpikan.
Mematok seabrek kriteria bukanlah hal yang salah, karena setiap orang mengidamkan pasangan terbaik sebagai pasangan hidupnya demi kebahagiaan rumah tangga kelak. Namun, ingatlah bahwa kriteria-kriteria itu bukanlah harga mutlak. Karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia. Layaknya matahari dan bulan, mereka sama-sama memiliki fungsi sendiri-sendiri. Bulan datang ketika malam tiba memberikan penerangan dalam kegelapan malam. Pun dengan matahari yang datang memberikan cahaya terbaiknya untuk menghangatkan bumi pertiwi.
Termotivasi dan berkeinginan menikah sampai mencapai level tertentu merupakan anugerah yang indah dari Allah Ta’ala. Dengan menyadari bahwa laki-laki dan perempuan merupakan kekuasaan-Nya, Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. ” (QS. Ar-Ruum: 21).
Menikah adalah hal yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kita berusaha untuk selalu mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى
“Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.” (HR. Bukhari no.5063 dan Muslim no.1401).
Berharap pahala dari kehidupan rumah tangga, mendapat keturunan yang shalih dan shalihah. Menjadi taman untuk mendirikan syari’at agama pertama bagi anak-anaknya.
Janganlah keinginan menikah yang telah menghujam dalam hati sirna karena terlalu tingginya patokan kriteria yang diajukan. Jikalau ternyata tidak ditemukan yang sama dengan kriteria yang diinginkan, maka tidak boleh merugikan dirinya dengan menunda-nunda pernikahan demi menunggu dan mendapatkan yang sama persis dengan keinginannya. Sehingga ia tidak sadar dangan kondisinya sendiri yang telah berada pada ambang waktu untuk harus menikah. Sungguh hal yang sangat merugikan jika standar yang diinginkan tertalu tinggi malah menjadi duri bagi dirinya sendiri maupun orang-orang disekitarnya.
“Apabila engkau mendamba seorang yang berbudi tanpa cela, mungkinkah kiranya gaharu menebarkan wanginya tanpa asap?” (Majma’ Al-Hikam wal Amtsal fi Asy-Syi’r Al-‘Arabi).
Kalimat di atas telah menyadarkan dan mengajari kita, bahwa tidak mungkin seseorang akan mendapatkan pasangan yang sempurna tanpa cela. Oleh karenanya, buat apa menunda pernikahan karena terhalang sebuah kriteria selangit yang belum sesuai keinginan?
Seperti ungkapan yang sering didengar, “Apabila Anda tidak memiliki kualitas sebaik Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jangan terlalu berangan tinggi bahwa Anda akan mendapat istri seperti ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Bilamana Anda bukan seperti ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, maka jangan terlalu bermimpi mendapatkan wanita sebagaimana Fathimah radhiyallahu ‘anha.”
Alangkah lebih baiknya ketika kita tidak terlalu neko-neko dalam menentukan kriteria calon pasangan kita. “Ketika kamu ingin mendapatkan yang shalih, maka shalihahkan dulu dirimu.”, begitu juga sebaliknya. Agar kita senantiasa sadar atas segala kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki. Tidak hanya menuntut namun berusahalah menjadi penurut bagi suami kita kelak.
1. Berusahalah menjadi pribadi yang senantiasa terus menerus memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih taat pada Allah serta Rasul-Nya.
Ingatlah janji Allah Ta’ala dalam firman-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengingkari janji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ
وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 26).
2. Perbaiki niat
Tanyakan pada diri sendiri apakah tujuan anda menikah? Karena beribadah? Menunaikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Menyalurkan hasrat kondrat manusiawi?
Pasti akan didapat jawaban yang berbeda-beda. Sesuai dengan apa tujuan mereka menikah. Namun Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”(Qs. Adz-Dzariat: 56).
Terkandung manifestasi dari tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini, yaitu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya, sudah sepantasnya dalam melaksanakan segala amalan yang kita kerjakan tentulah akan berpulang pada tujuan awal.
3. Bekali diri dengan ilmu
Ketika bahtera rumah tangga telah melaju jauh, berkibar bak kapal pesiar yang akan terus berjalan mengarungi samudra kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Dalam sebuah perjalanan mengarungi samudra pastilah terdapat berbagai ritangan dan hambatan. Ombak yang datang menghantam, hujan, angin, dan badai yang kapan saja mengancam. Oleh karenanya, nahkoda kapal haruslah siap kapanpun rintangan itu datang menghadang. Mustahil seorang nahkoda dapat mengendalikan kapalnya tanpa berbekal ilmu. Begitu pula dengan kita yang sedang menanti pasangan yang diidamkan. Persiapakanlah diri dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Agar senantiasa lebih siap dan bijak dalam mempersiapkan rumah tangga yang diidamkan bersama pasangan.
Menikah sungguhnya sangat menjaga
Menjaga pandangan, hati, lisan, tangan dari yang diharamkan-Nya
Lalu menggunakan untuk meraih pahala dan keridhoan-Nya
Bentuk perilakunya sungguh sama
Pujian, sanjungan, sentuhan, perhatian, rindu, cinta
Namun jika tidak dimulai dengan ikatan agama
Semua perbuatan itu hanya akan berbuah luka
Bahagiakan diri dengan memulai dengan niat yang suci
Akad yang disaksikan Ilahi
Insya Allah keberkahan akan menghampiri
Semoga Allah Ta’ala mempermudah langkah kita untuk menuju ke jenjang pernikahan, mempertemukan kepada seseorang yang diidam-idamkan. Allahu a’lam
Penulis : Ummu Shafiyyah Lia Wijayanti Wibowo
DAKWAHIN YUK!
via : blog.berdakwah.net
LINE : @ Islam [ User ID : @kbi6840i ]
islam-surga.blogspot.com
http://islam-surga.blogspot.com/2015/08/ketika-dilema-galau-menanti-jodoh.html
Langganan:
Postingan
(
Atom
)






